RESUME BUKU “SELAMATKAN INDONESIA” KARANGAN PROF. DR. AMIEN RAIS

Published Februari 26, 2015 by mujiatunridawati

RESUME BUKU “SELAMATKAN INDONESIA”
KARANGAN PROF. DR. AMIEN RAIS

Di dalam buku ini, Amien mengaku bahwa dirinya menyampaikan ulasan, usulan, dan kritikan. Amien sadar bukunya ini akan dianggap sebagai kritik yang tajam, terutama oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Amien menulis dalam kata pengantarnya. Saya sadar bahwa usulan kritis dalam risalah ini oleh sebagian masyarakat, khususnya pemerintah Yudhoyono, dianggap terlalu keras dan tajam,. Bagi Amien, masalah besar Indonesia yang senantiasa bergejolak adalah mengapa bangsa Indonesia terus saja miskin, terbelakang, dan tercecer dalam derap kemajuan bangsa-bangsa lain. Salah satu yang dianalisis Amien adalah karena nasionalisme bangsa Indonesia yang sempit, yang hanya bergelora pada penampilan luarnya.
Dia mengibaratkan bangsa ini sebagai rumah di pinggir jalan raya. Bangsa dan pemerintah Indonesia yang memiliki rumah ini memiliki obsesi aneh. Obsesi itu adalah bagaimana rumah pagar itu selalu terlihat bersih, mengkilat, dan tidak boleh berdebu. Adalah tampak muka rumah yang paling penting, yang lain masih bodoh, yang penting penampilan. Sehingga ketika perabotan rumah dicuri di depan mata si pemilik rumah, ia tidak begitu peduli. Bahkan ketika istri dan anak-anaknya dibawa keluar oleh orang lain, si pemilik rumah tidak mengambil tindakan apa pun. Ia hanya bisa menonton, seolah tidak ada sesuatu yang dirisaukan, tulis mantan ketua umum DPP PAN ini.
Amien menyindir hal ini terkait dengan penguasaan asing terhadap aset-aset nasional Indonesia. Banyak sumber daya alam (SDA) yang dikuasai oleh negara adidaya. Apa yang terjadi saat ini merupakan pengulangan sejarah tiga abad lalu, saat Nusantara mulai dikuasai oleh VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Menurut Amien, saat ini, pada dasarnya kekuatan-kekuatan korporatokrasi di awal abad 21 tidak mudah, bahkan mustahil dengan gampang bisa mengacak-acak kedaulatan ekonomi Indonesia, seandainya elit nasional tidak membungkuk dan tiarap. Masalahnya, saat ini, banyak pemimpin Indonesia yang masih mewarisi mental inlander.
Amien mencontohkan kehadiran Presiden AS George W Bush pada akhir 2006 lalu. Menurut dia, banyak pemimpin bangsa Indonesia yang ketakutan dan merasa panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia.Pengamanan yang diberikan kepada Presiden AS yang di negerinya sendiri sudah tidak populer itu sungguh berlebih dan sekaligus agak memalukan. Tidak ada negara mana pun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan SBY. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS, tegas Amien.
Dalam pengantarnya Amin menyatakan bahwa demi masa depan bangsa, tidak perlu takut menggelar pertukaran pikiran secara lugas dan tajam. Yang dipertaruhkan adalah masa depan generasi muda yang rata-rata mulai pesimis melihat masa depan. Bila pesimisme berubah menjadi apatisme, maka sulit untuk merubah masa depan. Kemudian Amin mengutip pernyataan Nabi Ãuaib a.s dalam kitab suci Al-Quran yang artinya: Aku hanya menghendaki perbaikan semampuku. Tiada keberhasilan, kecuali dengan pertolongan Allah. kepadaNya aku berserah diri, dan kepadaNya pula aku akan kembali.

BAB I
SEJARAH BERULANG

Diawal bab ini Amin menjelaskan bahwa kata Kemerdekaan dan Kedaulatan nasional Indonesia yang diberi tanda petik menunjukkan bahwa semua itu masih semu, dan semua akan terungkap melalui penjelasan yang diuraikan di buku SELAMATKAN INDONESIA. Dasawarsa terkahir abad 20 dan dasawarsa pertama pada abad 21 ini, sesungguhnya merupakan pengulangan belaka dari apa yang bangsa Indonesia alami pada masa penjajahan kompeni dan pemerintahan Belanda pada masa lalu. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk atau format belaka. Dahulu merupakan pendudukan fisik dan militer yang menyebabkan bangsa ini tidak mempunyai kemerdekaan dalam segi politik, ekonomi, social, hokum dan pertahanan. Sedangkan sekarang bangsa Indonesia telah kehilangan kemandirian, dan juga telah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam banyak hal Bangsa Indonesia tetap tergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing.
Kekuatan korporatokrasi telah mendikte bukan saja pada perekonomian nasional seperti kebijakan perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal dan lain-lain, tetapi bahkan lebih dari itu, bangsa Indonesia bisa dikatakan tidak menjadi tuan di rumah sendiri. Nampaknya bangsa ini lupa dengan sejarah yang pernah dialami dahulu. Seorang filosof spanyol George Santayana, pernah memperingatkan bahwa mereka yang tidak bisa mengambil pelajaran dari sejarah, dipastikan akan mengulangi pengalaman sejarah tersebut.
George Bernard Shaw seorang dramawan dan sosialis Irlandia (1856-1950), mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang unik dan agak aneh, sekalipun sejarah berulang, manusia sangat sulit bahkan tidak mampu untuk tidak mengulangi sejarah yang buruk. Shaw mengatakan if history repeats itself, and the unexpected always happens, how incapable must man be of learning from experience. Nabi juga telah menyampaikan bagaimana pentingnya kesadaran sejarah, melalui perkataanya : Barang siapa yang memiliki masa sekaranga lebih bagus dari masa lalunya , ia tergolong orang yang beruntung, bila masa sekarangnya sama dengan masa lalunya, ia termasuk orang yang merugi, bila masa sekarangnya lebih buruk dari masa lampaunya, ia tergolong orang yang bangkrut
Sejarah adalah kontinuitas antara masa lampau, masa sekarang dan masa depan. Dahulu perusahaan Belanda berhasil menguasai kepulauan Indonesia dan menguras hasil bumi, terutama rempah-rempah, dan perkebunan Indonesia, sampai sekitar 3 abad karena mekanisme korporatokrasi pada waktu itu. Ada beberapa faktor penyebab Belanda bisa berjaya menjarah kekayaan alam Indonesia sampai demikian lama yaitu pertama karena pemerintah Belanda memberikan dukungan politik sepenuhnya. VOC diberi hak monopoli dagang di Hindia Timur (maksudnya kepulauan Nusantara) dan dibantu menyingkirkan para pesaing dari Eropa seperti Inggris dan Portugalserta wewenang untuk menduduki wilayah manapun yang dikehendaki dan menjajah penduduk asli sesuai dengan tuntutan pasar dan kebutuhan politik VOC sendiri.
VOC dan Belanda dapat menjajah Indonesia karena elite atau penguasa pada waktu itu, mereka tidak semuanya melakukan perlawanan bersama rakyat untuk memukul balik kaum imperialis kolonialis. Tetapi justru sebagian dari mereka berkolaborasi dengan pihak penjajah, meskipun ada juga para pahlawan yang membela kepentingan bangsa. Akan tetapi ada juga lapisan aristokrasi yang cenderung berdamai dan bahkan mensubordinasikan diri di bawah kompeni dan penjajah Belanda.
Pada akhir bab ini Amin memaparkan tentang semangat kemandirian dan rasa percaya diri bangsa yang mulai hilang. Contoh nyatanya adalah kedatangan Presiden Bush ke Indonesia pada akhir 2006 lalu. Pengamanan yang diberikan sangat berlebihan, tidak ada negara manapun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia padahal Bush di negaranya sendiri sudah tidak populer, seolah Indonesia telah menjadi Vazal atau negara protektorat AS.

BAB II
GLOBALISASI MAKIN LAYU

Globalisasi yang dimaksud dalam hal ini pada intinya berarti proses interkoneksi yang terus meningkat di antara berbagai masyarakat sehingga kejadian-kejadian yang berlangsung di sebuah negara mempengaruhi negara dan masyarakat lainnya. Dunia yang terglobalisasi adalah dunia dimana peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, budaya dan sosial semakin terjalin erat dan merupakan dunia dimana kejadian-kejadian tersebut berdampak semakin besar.
Menurut IMF globalisasi ekonomi adalah sebuah proses historis. Globalisasi merujuk pada integrasi ekonomi yang terus meningkat di antara bangsa-bangsa di muka bumi, terutama lewat arus perdagangan dan keuangan. Sedangkan menurut Bank Dunia, inti globalisasi ekonomi adalah proses sharing kegiatan ekonomi dunia yang berjalan melanda semua masyarakat di berbagai negara dengan mengambil 3 bentuk kegiatan, yaitu perdagangan Internasional, investasi asing langsung dan aliran pasar modal.
Secara garis besar ada 5 definisi luas tentang globalisasi menurut  Jan Aart Scholtc:
Globalisasi sebagai Internasionalisasi yaitu kegiatan antar negara yang melampui batas wilayah masing-masing sehingga terjadi saling tukar dan saling ketergantungan internasional.
Globalisasi sebagai Liberalisasi, yakni proses pemusnahan sebagai restriksi politik sehingga ekonomi dunia menjadi lebih terbuka dan tanpa batas.
Globalisasi sebagai universalisasi informasi, komunikasi dan transportasi dan berbagai kegiatan masyarakat dunia lainnya.
Globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi, yakni merebaknya modernitas barat yang menyangkut kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokratisme, dan lain sebagainya.
globalisasi sebagai deteritorialisasi dimana terjadi rekonfigurasi geografi, sehingga ruang sosial tidak lagi dipetakan berdasarkan peta teritorial, jarak dan batas teritorial 
Langkah-langkah yang harus ditempuh oleh negara yang dilanda krisis ekonomi untuk memperbaiki ekonominya menurut John Williamson ada 10. rekomendasi ekonomi yang terkenal dengan Konsensus Washington yaitu :
Perdagangan bebas
Liberalisasi pasar modal
Nilai tukar mengambang
Angka bunga ditentukan pasar
Deregulasi pasar
Transfer aset dari sektor publik ke sektor swasta
Fokus ketat dalam pengeluaran publik pada berbagai target pembangunan nasional
Anggaran berimbang
Reformasi pajak
Perlindungan atas hak milik dan hak cipta

Washington Konsensus itu mempunyai tujuan Untuk menghancurkan seluruh rintangan nasional terhadap perdagangan, mengakhiri proteksionisme, memperluas pasar dan zona bebas, dan memungkinkan mengalirnya modal kemana saja dengan kendala dan regulasi minimal. Dalam euphoria globalisasi, masyarakat dunia disuruh percaya bahwa globalisasi menjanjikan masa depan dunia yang lebih indah, namun kenyataannya impian globalisasi tersebut semakin tidak terbukti.
Menurut Kenichi ohmae dan Robert Reich, integrasi ekonomi dunia tidak mungkin dielakkan dan ekonomi global adalah keniscayaan. Dan sekarang terbukti bahwa globalisasi itu makin layu, karena bau imperialisme sangat menyengat dalam proses globalisasi. Globalisasi bila dilihat dari beberapa segi pada hakekatnya merupakan imperialisme ekonomi yang bercirikan pada tiga hal yaitu : Pertama, ada kesenjangan kemakmuran antara negara antara negara penjajah dan negara terjajah. Kedua, hubungan antara kaum penjajah dan terjajah adalah hubungan  eksploitatif atau bersifat menindas. Ketiga, negara terjajah, sebagai pihak yang lemah, kehilangan kedaulatan dalam arti luas.
Noam Chomsky menyatakan bahwa:  Globalisasi yang tidak memprioritaskan hak-hak rakyat (masyarakat) sangat mungkin merosot terjerembab ke dalam bentuk tirani, yang dapat bersifat oligarkis dan oligopolistis. Globalisasi semacam itu didasarkan atas konsentrasi kekuasaan gabungan negara dan swasta secara umum tidak bertanggung jawab pada publik. Kejahatan kebanyakan korporasi dalam melanggar HAM yang merusak lingkungan dan menguras kekayaan alam negara-negara berkembang memang sulit dijangkau oleh hukum dan politik dari negara yang menjadi korban globalisasi. Apalgi di negara yang serba lemah seperti Indonesia, kecendrungan imperialisme ekonomi yang mengakibatkan kesenjangan kaya-miskin antar negara menjadi semakin nyata. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pada dasawarsa 1980-an dan 1990-an globalisasi yang didasarkan pada model ekonomi baru atau neoliberalisme berjalan sangat lancar bagi kepentingan negara-negara besar. Doktrin globalisasi mendorong negara-negara di dunia mengintegrasikan ekonomi mereka ke dalam satu ekonomi global tunggal. Doktrin itu meliputi: Liberalisasi perdagangan dan arus keuangan, deregulasi produksi, modal dan pasar tenaga kerja dan merampingkan peran negara terutama yang berkaitan dengan program pembangunan sosial dan ekonomi.
Imperialisme cendrung menghilangkan kedaulatan negara-negara yang lemah pertahanan nasionalnya juga melahirkan kesenjangan negara kaya dan negara miskin dan menciptakan ekonomi yang eksploitatif. Amin menyatakan bahwa Indonesia termasuk negara yang terpaksa kehilangan kedaulatan ekonominya karena pernah didikte dan didominasi oleh IMF pasca krisis moneter yang melanda pada tahun 1990-an.

BAB III
KRITIK TAJAM DARI DALAM

Globalisasi yang telah berjalan pada 3 dasawarsa terakhir ini telah memunculkan kritik tajam yang telah membuka sisi-sisi gelap. Yang menarik adalah bahwa kritik sangat tajam terhadap globalisasi itu justru berdatangan dari kalangan dalam atau dari mereka yang pernah berada di sarang penggerak globalisai. Diantara kritikus terhadap globalisasi itu, yang paling menonjol adalah Joseph Stiglitz, pemikirannya sangat konsisten dan komprehensif dengan didukung teori ekonomi dan praktik lapangan yang mengesankan. Tiga bukunya yang menghantam globalisasi adalah Globalization and its Discontents (2002), The Roaring Nineties: Seeds of Destruction (2003), dan Making Globalization Work (2006).
Dalam buku pertamanya, Siglitz menunjukkan bahwa ekonomi pasar bebas tidak pernah menghasilkan efisiensi, karena adanya informasi asimetris dari pelaku pasar modal. Secara samar sesungguhnya dia juga membenarkan adanya mentalitas kolonialisme di pihak IMF ke Negara berkembang. Sedangkan liberalisasi dan pembukaan pasar ekonomi menurutnya bukan saja harus mementingkan efisiensi ekonomi, tetapi akibatnya harus secara social dapat diterima agar liberalisasi pasar dan modal dapat diterima.
Siglitz menyatakan bahwa langkah IMF dan Bank Dunia ditentukan oleh Amerika, karena Amerika yang menguasai gugusan suara terbanyak. Dominasi Amerika ditambah dengan kerahasiaan siding-sidang IMF telah memungkinkan Amerika menjadikan IMF sebagai instrument politik luar negerinya, yang pada umumnya merugikan Negara berkembang.
Siglitz juga mengkritik WTO. Baginya WTO adalah symbol yang paling jelas dari kesenjangan global dan kemunafikan (hipokrisi) Negara-negara maju. Negara-negara maju selalu memaksa Negara berkembang untuk membuka pasarnya bagi produk Negara maju, sementara Negara maju menutup pasarnya bagi produk Negara berkembang terutama hasil pertanian dan tekstil. Negara maju selalu menghimbau agar Negara berkembang tidak memberikan subsidi di sector industry, sedangkan mereka memberikan subsidi milyaran dolar bagi para petaninya, sehingga mustahil negara berkembang dapat bersaing dengan Negara maju.
Siglitz memuji India, China dan Negara-negara Asia Timur termasuk Malaysia yang berhasil membangun ekonomi Negara masing-masing tanpa mengikuti consensus Washington dan mengambil langkah-langkah globalisasi secara selektif.
Ketika Siglitz berkunjung ke Indonesia pada bulan Agustus tahun 2007, ia mengingatkan supaya Indonesia keluar dari kungkungan pemahaman yang keliru terhadap globalisasi. Selama ini Indonesia lemah karena kebodohan sehingga seluruh mantra globalisasi seperti difatwakan oleh IMF, Bank Dunia dan WTO ditelan semua tanpa disaring dengan nalar kritis. Siglitz menambahkan bahwa Liberalisasi pasar modal seperti yang dipraktikkan Indonesia bukanlah sebuah solusi. Bukti-bukti memperlihatkan bahwa di Negara-negara berkembang, liberalisasi modal tidak menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi bahkan menciptakan ketidakstabilan. Siglitz mengusulkan Indonesia perlu agenda baru, diantaranya adalah Land Reform dan investasi yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

BAB IV
PAX AMERICANA

Di dalam BAB III ini Amin menjelaskan kronologis dan latar belakang Perang Dunia II dan perang dingin yang dimenangkan Amerika, sehingga menjadikan Amerika ingin memegang kepemimpinan dunia (World Leader). Arogansi yang berlebihan dan obsesi untuk menjadi Negara nomer satu tanpa tanding di dunia menyebabkan Amerika melibatkan diri pada perang di Vietnam yang berakhir dengan kekalahan. Perang yang berjalan selama 15 tahun membuat Amerika kehilangan banyak serdadu dan menghabiskan banyak biaya. Tetapi kemudian kejadian itu cepat dilupakan oleh Amerika, karena pada saat pemerintahan George Bush, keinginan untuk mendominasi dunia itu muncul kembali sehingga salah seorang intelektual Amerika yang bernama Gore Vidal mengatakan bahwa USA merupakan kepanjangan dari United Stated Of Amnesia.
Penjelasan selanjutnya dalam bab ini adalah mengenai Projek-Projek yang dirancang oleh politikus Amerika untuk memperkuat posisi Amerika sebagai Negara nomer satu, seperti DPC (Defense Planning Guidance) tahun 1992 yang menginginkan hak intervensi Amerika kesetiap konflik yang terjadi di belahan Bumi, tetapi ide ini ditolak oleh Clinton Presiden saat itu. Kemudian mereka bergabung dalam Think Tank, yang disebut sebagai Abad Baru Amerika atau PNAC ( Project for the new American Century) tahun 1997. Karya besar PNAC ini adalah sebuah document yang bernama RAD (Rebuilding Americans Difense).
Beberapa hal penting yang dapat digaris bawahi dalam RAD adalah: bahwa Impian Pax Americana bukan kemustahilan, karena setelah Uni Soviet hancur, maka Amerika Serikat menjadi Negara Adidaya Satu-satunya. Supremasi militer Amerika tidak boleh terkurangi sedikitpun. Empat misi penting yaitu: pertahanan tanah air adalah paling utama, amerika harus siap menghadapi perang dimanapun, mampu menjadi polisi dunia dan selalu berusaha mempercanggih kekuatan militernya, juga dikatakan bahwa peran PBB dapat dikesampingkan sesuai kebutuhan Amerika.
Penjelasan selanjutnya mengenai Doktrin Bush yang erat hubungannya dengan RAD buatan PNAC yang telah diuraikan sebelumnya, Bush ingin memegang supremasi dan hegemoni dunia secara utuh dan menyeluruh. Dalam majalah Macleans Patrick Graham menagatakan bahwa Bush telah menjadi Saddam Baru, tetapi Amin yakin tangan Bush jelas jauh lebih berlumuran darah dibanding dengan Saddam, dengan merenggut nyawa rakyat Iraq melalui serdadunya.
Amin sealnjutnya mengkritik Pax Americana dan Doktrin Bush dengan menjelaskan keberadaan ekonomi dan social Amerika yang semakin rapuh, disebutkan bahwa pada abad 21 ekonomi amerka tidak lagi menciptakan lapangan kerja. Belum lagi hutang luar negri, sehingga Amin bingung, bagaimana mungkin dengan ekonomi yang begitu rapuh Amerika bisa menjadi Super Power?

BAB V
KORPORATOKRASI

Dalam Wikipedia Istilah korporatokrasi dapat diartikan sebagai system kekuasaan yang dikontrol oleh berbagai korporasi besar, bank-bank internasional dan pemerintahan. Sesungguhnya istilah korporatokrasi dapat digunakan untuk menunjukkan betapa korporasi atau perubahan besar memang dalam kenyataannya dapat mendikte bahkan kadang-kadang dapat membeli pemerintahan untuk meloloskan keinginan mereka.
Menurut Amin, hamper semua korporasi besar yang ada di Amerika pernah dan sedang melakukan skandal dalam berbagai bentuk seperti, menyuap para pejabat Negara, anti-trust, akuntansi bohong, merusak lingkungan, pencucian uang dan lain sebagainya. Sebuah bulletin mencatat skandal dan kejahatan korporasi decade 1990-an ada seratus korporasi yang melakukan aneka pelanggaran dan telah dihukum oleh pengadilan, tapi sayangnya hukuman itu hanya berupa denda yang tidak sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan.
Beberapa perbedaan antara korporasi dengan penjahat biasa (mafia, gangster, dll) pertama, kejahatan korporasi tidak mungkin bisa dilakukan oleh penjahat biasa seperti mendiktekan undang-undang pada pemerintah dalam arti luas yakni dalam arti eksekutif, legislative dan legislative, mereka membangun lobi yang kelewat kuat. Kedua, kehancuran yang ditimbulkan korporasi jauh lebih dahsyat dari kehancuran akibat kejahatan biasa. Ketiga, karena berbentuk kekuatan politik, maka korporasi selalu menang bila dibawa keproses hokum. Keempat, karena kuatnya korporasi, maka banyak jaksa atau hakim lebih memilih untuk menghindari keadilan, karena dengan membela korporasi-korporasi justru akan membuat karirnya semakin cemerlang. Kelima, lembaga-lembaga hokum seperti kepolisian, kehakiman dan kejaksaan pada umumnya tidak memiliki kemampuan atau keberanian untuk menjangkau kejahatan korporasi.

BAB VI
KORUPSI PALING BERBAHAYA:
STATE CAPTURE CORRUPTION
Menurut Transparansi Internasional, korupsi adalah prilaku pejabat public baik politisi maupun pegawai Negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya dengan menyalah gunakan kekuasaan public yang dipercayakan kepada mereka. Secara hokum, definisi korupsi telah dijelaskan dalam 13 buah pasal dalam UU No. 31 tahun 1999 dan UU No.20 tahun 2001. berdasarkan itu, korupsi dirumuskan dalam 30 bentuk, yang dikelompokkan kedalam kerugian Negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi.
Ada dua macam korupsi dari segi motivasi atau alasannya, yaitu bersifat Need Based yaitu korupsi karena desakan kebutuhan atau survival, demi menyambung hidup dan Greed yaitu korupsi karena keserakahan yang tidak mengenal batas atau limit. Banyak Negara berkembang termasuk Indonesia yang sekalipun sudah memperoleh kemerdekaan, tetapi masih saja dicekam oleh neokolonialisme korupsi.
Setelah memaparkan ulasnnya secara panjang lebar, akhirnya Amin memberikan sarannya tentang keadaan Indonesia saat ini:
Serharusnya Secepat mungkin bangsa Indonesia mempersiapkan pemimpin yang memiliki mentalitas yang bebas, merdeka dn mandiri.
Memilih calon pemimpin seharusnya diupayakan berasal dari tokoh-tokoh muda yang berwawasan nasional dan internasional dan bersifat kepemimpinan kolektif sehingga dapat bersifat lintas suku, bahasa , agama dan lain-lain.
Pemimpin yang terpilih seharusnya merupakan Seorang pemimpin yang memahami kekuasaan sebagai amanat rakyat yang harus ditunaikan dengan kejujuran dan kerja keras.
Seorang pemimpin yang dibutuhkan Indonesia adalah seseorang yang mampu mengkampanyekan pentingnya menancapkan kembali kemandirian nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: