MENEKAN TINGKAT INFLASI DALAM PERSPEKTIF AL-MAQRIZI

Published Juli 19, 2012 by mujiatunridawati

MENEKAN TINGKAT INFLASI DALAM PERSPEKTIF AL-MAQRIZI

Oleh: Mujiatun Ridawati, MSI.

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masalah ekonomi senantiasa menarik perhatian berbagai macam lapisan masyarakat dan individu karena kemapanan ekonomi merupakan tulang punggung dari kemakmuran rakyat secara materi yang akan berdampak positif terhadap pembangunan diberbagai bidang. Berbagai penelitian telah dibuat untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi. Berbicara mengenai sistem ekonomi seringkali merujuk pada dua sistem: kapitalisme pasar dan sosialisme terpimpin. Kapitalisme adalah sistem yang didasarkan atas pertukaran sukarela (voluntary exchanges) di dalam pasar bebas. Sebaliknya, sosialisme mencoba mengatasi problem produksi, konsumsi dan distribusi melalui perencanaan dan komando.[1]

Selain kedua sistem diatas, muncul sebuah sistem baru yang dianggap bisa menjadi penengah sekaligus solusi dalam perekonomian umat manusia yaitu ekonomi Islam karena sebagaimana bidang ilmu-ilmu yang lainnya ekonomi juga tidak luput dari kajian Islam yang bertujuan untuk menuntun manusia agar berada dijalan yang lurus (Siraatal Mustaqiim).[2] Penerapan syariat Islam di bidang ekonomi haruslah dilihat sebagai bagian integral dari penerapan syariat Islam di bidang-bidang lain. Karena yang ingin dicapai adalah transformasi masyarakat dari masyarakat yang berbudaya lama menjadi masyarakat yang berbudaya Islami, maka nilai-nilai Islam harus internal dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain Islam menjadi budaya masyarakat. Di bidang ekonomi, dapat dibedakan menjadi tiga tingkat (level) penerapan yaitu teori ekonomi Islam, sistem ekonomi Islam dan perekonomian umat Islam.[3]

Dalam wikipedia, inflasi didefinisikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinyu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan kepada barang lainnya. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan moneter terhadap suatu komoditas. Sementara itu para ekonom modern mendefinisikannya sebagai kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit penghitungan moneter) terhadap barang-barang/komoditas.[4]

Para Ekonom cenderung lebih sering menggunakan “Implicit Gross Domestic Product Deflator” atau GDP Deflator untuk melakukan pengukuran tingkat inflasi. GDP Deflator adalah rata-rata harga dari seluruh barang tertimbang dengan kuantitas barang-barang yang dibeli. Sehingga secara umum inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu Negara, mendorong tingkat bunga, mendorong penanaman modal yang besifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, deficit neraca pembayaran dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.[5]

Di Indonesia, tanda-tanda perekonomian mulai mengalami penurunan pada tahum 1997 saat terjadinya awal krisis. Saat itu pertumbuhan perekonomian Indonesia hanya berkisar pada level 4,7 %, sangat rendah dibandingkan dengan tahun sebelumbnya yang 7,8 %. Bagi Indonesia, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, maka akan meningkatkan Pendapatan Nasional (GNP) dan pendapatan perkapita akan meningkat, tingkat inflasi dapat ditekan, suku bunga berada berada pada tingkat yang wajar, dan semakin bergairahnya modal dalam maupun luar negri.[6]

Menurut salah satu sumber yang mengutip dialog dengan perwakilan dari Bank Indonesia menyatakan bahwa pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan moneter, melainkan juga kebijakan ekonomi makro lainnya seperti kebijakan fiskal dan kebijakan di sektor riil. Untuk itulah koordinasi dan kerjasama antar lembaga lintas sektoral sangatlah penting dalam menangani masalah inflasi bahkan lebih lanjut BI menambahkan bahwa berbagai kebijakan penyesuaian harga barang yang dikendalikan pemerintah juga dapat memberikan tekanan inflasi secara signifikan.[7]

Menurut Chapra (2000), jika hendak melakukan pengobatan, maka tidak akan ada pengobatan yang efektif kecuali hal itu diarahkan kepada arus utama masalah. Kesalahan yang umumnya dilakukan adalah bahwa pengobatan hanya dilakukan pada symtom (gejala) saja, bukan secara causatic (sumber masalah). Contoh penyelesaian masalah yang hanya sampai kepada gejala adalah: penyelesaian krisis ekonomi dengan hanya melihat ketidakseimbangan anggaran, ekspansi moneter yang berlebihan, defisit neraca pembayaran yang terlalu besar, naiknya kecendrungan proteksionis, tidak memadainya bantuan asing dan kerja sama internasional yang tidak mencukupi dsb. Akibatnya, penyembuhannya hanya bersifat sementara, seperti obat-obatan analgesik, mengurangi rasa sakit hanya bersifat sementara tetapi kemudian muncul kembali, bahkan serius.[8]

Penelitian ini menawarkan solusi alternatif terhadap pengendalian ketidakstabilan ekonomi khususnya yang ditimbulkan oleh inflasi dengan menggunakan perspektif Islam. Perspektif ini digunakan dengan tujuan untuk mencoba mencari penyelesaian masalah sampai kepada sumber arus utama masalahnya, bukan hanya sekedar penyelesaian kepada gejalanya saja karena Inflasi merupakan masalah serius yang dihadapi bangsa dan harus segera dicari solusinya.

Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Diskursus tentang inflasi selalu menjadi perbincangan hangat diantara para ekonom barat maupun timur. Bapak kaum moneteris seperti Milton Friedman misalnya, terkenal dengan pernyataannya “inflation is just monetary phenomenon” atau inflasi hanyalah jumlah fulus yang berlebihan. Sedangkan cetusan pemikiran  spesialis utama berkisar tentang uang dan inflasi dari pakar ekonom Islam salah satunya adalah Taqiyuddin Al-Abbas Ahmad bin Ali Abdil Qadir Al-Husaini, Ia lahir di Desa Barjuwan, Kairo pada tahun 766 H (1364-1365 M). keluarganya berasal dari maqarizah sebuah desa yang terletak di kota Ba’lakbak. Oleh karena itu ia cendrung dikenal sebagai Al-Maqrizi,[9]yang merupakan murid Ibn Khaldun, bukunya yang berjudul Igatsat al-Ummah bi Kassf al-Gummah (Menolong Ummat dengan Menyembuhkan Penyebab Krisisnya). Al-Maqrizi menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu human error inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri (QS Ar-Rum ayat 41) dan natural inflation adalah Inflasi oleh sebab alamiah yang diakibatkan oleh turunnya Penawaran agregat atau naiknya Permintaan agregat.[10]

Adiwarman dalam Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer menyebutkan bahwa teori Friedman bahkan hanya merupakan bagian kecil dari teori Al-Maqrizi. Bahkan lebih jauh lagi Abdu Rahman Yusri, pakar ekonomi syari’ah asal Mesir, menyatakan bahwa Al-Maqrizi layak untuk dianugrahi gelar sebagai monetarist pertama di dunia.[11]

Dari latar belakang masalah diatas, muncul kegelisahan akademis, apakah teori inflasi yang dikemukakan oleh Ahmad bin Ali Al-Maqrizi yang dapat diterapkan di Mesir bisa juga menjadi solusi persoalan inflasi yang dihadapi oleh bangsa Indenesia, karena penelitian literal ini akan memaparkan prinsip-prinsip pokok pemikiran Al-Maqrizi tentang control terhadap tingkat inflasi secara mendetail dan terperinci.

B. Rumusan Masalah

            1. Bagaimana konsep atau teori dasar tentang inflasi menurut Al-Maqrizi?

            2. Bagaimana mengontrol/mengendalikan  inflasi menurut Al-Maqrizi.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Biografi Al-Maqrizi Dan Karya-Karyanya

1.      Sejarah Singkat Al-Maqrizi

Nama lengkap Al-Maqrizi adalah Taqiyuddin Al-Abbas Ahmad bin Ali Abdil Qadir Al-Husaini, Ia lahir di Desa Barjuwan, Kairo pada tahun 766 H (1364-1365 M). keluarganya berasal dari maqarizah sebuah desa yang terletak di kota Ba’lakbak. Oleh karena itu ia cendrung dikenal sebagai Al-Maqrizi.[1]

Kondisi ekonomi ayahnya yang lemah menyebabkan pendidikan masa kecil dan remaja Al-Maqrizi berada dibawah tanggungan kakeknya dari pihak ibu, Hanafi ibnu Sa’igh seorang penganut mazhab Hanafi. Al-Maqrizi tumbuh berdasarkan mazhab ini. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tahun 786 H (1384 M), Al_Maqrizi beralih ke mazhab Syafi’i. bahkan dalam perkembangan pemikirannya, ia terlihat cendrung menganut mazhab Zhahiri.[2]

Al-Maqrizi merupakan sosok yang sangat mencintai Ilmu. Sejak kecil ia gemar melakukan rihlah ilmiah. Ia mempelajari berbagai disiplin ilmu, seperti fiqih, hadits dan sejarah, dari para ulama’ yang besar yang hidup pada masanya. Diantara tokoh terkenal yang sangat mempengaruhi pemikirannya adalah Ibnu Khaldun, seorang ulama’ besar dan penggagas ilmu-ilmu social, termasuk ilmu ekonomi. Interaksinya dengan Ibnu Khaldun dimulai ketika Abu Al-iqrishad ini menetap di Kairo dan memangku jabatan hakim agung (Qadhi Al-Qudah) mazhab Maliki pada masa pemerintahan Sultan Barquq (784-801 H).[3]

Al-Maqrizi juga merupakan seorang Muhtasib (pengawas pasar, semacam kepala lembaga ombudsman, pent.) yang memiliki pengetahuan tenatng kondisi ekonomi pada masanya dan juga seorang pengkritik keras pemerintahan Burji Mamluk. Ia menerapkan analisis Ibnu Khaldun dalam bukunya yang berjudul Ighatsah Al-Ummah bi Kasyfil Gummah (menolong rakyat dengan mengetahui sebab-sebab penyakitnya). Yaitu menentukan sebab-sebab yang menimbulkan krisis ekonomi di Mesir pada masa periode 806-808.[4]

Ketika berusia 22 tahun, Al-Maqrizi mulai terlibat dalam berbagai tugas pemerintahan Dinasti Mamluk. Pada tahun 788 H (1386 M), Al-Maqrizi memulai kiprahnya sebagai pegawai di Diwan Al-Insya, semacam sekertariat Negara. Kemudian ia diangkat menjadi wakil Qadhi pada kantor hakim agung mazhab Syafi’i. khatib di Masjid Jamil Al-Hakim dan guru Hadits di Madrasah Al-Muayyadah.

Pada tahun 791 H (1389 M), Sultan Barquq mengangkat Al-Maqrizi sebagai  Muhtasib di Kairo. Jabatan tersebut diembannya selama dua tahun. Pada masa ini Al-Maqrizi mulai banyak bersentuhan dengan berbagai permasalahan pasar, perdagangan, dan Mudharrabah. Sehingga perhatiannya terfokus pada harga-harga yang berlaku, asal-usul uang dan kaidah-kaidah timbangan.

Pada tahun 811 H (1408 M), Al-Maqrizi diangkat sebagai pelaksana administrasi Waqaf di Qalanisiyah, sambil bekerja di rumah sakit An-Nuri, Damaskus. Pada tahun yang sama, ia menjadi guru hadits di Madrasah Asyrafiyyah dan Madrasah Iqbaliyyah. Kemudian Sultan Al-Malik Al-Nashir Faraj bin Barquq (1399-1412 M) menawarinya habatan wakil pemerintah Dinasti Mamluk di Damaskus. Namun, tawaran ini ditolak Al-Maqrizi.[5]

Setelah sekitar 10 tahun menetap di Damaskus, Al-Maqrizi kembali ke Kairo, sejak itu ia mengundurkan diri sebagai pegawai pemerintah dan menghabiskan waktunya untuk ilmu. Pada tahun 834 H (1430 M), ia bersama keluarganya menunaikan ibadah haji dan bermukim di Makkah selama beberapa waktu untuk menuntut ilmu serta mengajarkan hadits dan menulis sejarah.

Lima tahun kemudian, Al-Maqrizi kembali ke kampung halamannya, Barjuwan, Kairo. Di sini ia juga aktif mengajar dan menulis, terutama sejarah Islam, hingga terkenal sebagai seorang sejarawan besar pada abad ke-9 Hijriyah. Al-Maqrizi meninggal dunia di Kairo pada tanggal 27 Ramadhan 845 H atau bertepatan dengan tanggal 9 Februari 1442 M.[6]

2. Karya-Karya Al-Maqrizi

Semasa hidupnya, Al-Maqrizi sangat produktif menulis berbagai bidang ilmu, terutama sejarah Islam. Lebih dari seratus buah karya tulis telah dihasilkannya, baik berbentuk buku kecil maupun besar. Buku-buku kecilnya memilki urgensi yang khas serta menguraikan berbagai macam ilmu yang tidak terbatas pada tulisan sejarah. Al-Syayyal mengelompokkan buku-buku kecil tersebut menjadi empat kategori. Pertama, buku yang membahas beberapa peristiwa sejarah Islam umum, seperti kitab Al-Niza’ wa Al-Takhshum fi ma baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim. Kedua, buku yang berisi ringkasan sejarah beberapa penjuru Dunia Islam yang belum terbahas oleh para sejarawan lainnya, seperti Kitab Al-Imam bi Akhbar Man bi Ardh Al-Habasyah min Muluk Al-Islam. Ketiga, buku yang menguraikan Biografi singkat para raja, seperti Kitab Tarajim Muluk Al-Gharb dan Kitab Al-Zahab Al-Masbuk bi Dzikr Man bi Hajja min Al-Khulafa wa Al-Muluk. Keempat, buku yang mempelajari beberapa aspek ilmu murni atau sejarah beberapa aspek social dan ekonomi di Dunia Islam pada umumnya, dan di Mesir pada khususnya, seperti  kitab Syudzur Al-‘Uqud fi Dzikir AlpNuqud, kitab Al-Akhyal wa Al-Auzan Al-Syar’iyyah, kitab risalah fi Al-Nuqud Islamiyyah dan kitab Ighatsah Al-Ummah bi Kasyfil Gummah.[7]

Sedangkan terhadap karya-karya Al-Maqrizi yang berbentuk buku besar, Al-Syayyal membagi menjadi tiga kategori. Pertama, buku yang membahas tentang sejarah dunia, seperti Khabar ‘an Al-Basyr. Kedua, buku yang menjelaskan sejarah Islam umum, seperi kitab Ad-durar Al-Mudh’iyah fi Tarikh Al-Daulah Al-Islamiyah. Ketiga, buku yang menguraikan sejarah Mesir pada masa Islam, seperti Kitab Al-Muwa’izh wa Al-I’tibar bi Dzikr Al-Immah Al-Fahimiyyin Al-Khulafa, dan kitab Al-Suluk li Ma’rifah Duwal Al-Muluk.[8]

Dari sumber yang lain menyatakan bahwa Ramadhan al-Badri dan Ahmad Mushtafa Qasim telah mengkaji dan mengedit setidaknya ada 11 risalah Al-Maqrizi yang dibukukan dalam buku bertitel Rasa`il Al-Maqrizi yaitu:

Risalah Pertama, tentang pertentangan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim. Dalam risalah ini Al-Maqrizi menjelaskan tentang pertikaian antara kabilah Bani Umayyah dengan Bani Hasyim.Di sini Al-Maqrizi juga memaparkan bagaimana Rasulullah saw memberikan kekuasan wilayah Makkah, Madinah dan Hadramaut kepada Bani Umayyah. Di samping itu, dengan gaya bahasa yang sangat indah Al-Maqrizi menguraikan kekebengisan Abu al-Abbas, pendiri khilafah Abbasiyah, yang dijuluki as-Saffah (orang yang banyak mengalirkan darah).[9]

Risalah Kedua, tentang kemurnian tauhid. Al-Maqrizi membeberkan berbagai perbedaan mendasar antara tauhid dan syirik. Menurutnya, inti dari ketauhidan adalah melihat bahwa segala sesuatu itu dari Allah dan mengabaikan lain-Nya, menyembah-Nya dengan sepenuh hati dan tidak menyembah selain-Nya. Hal ini berarti mengandung larangan untuk mengikuti hawa nafsu, sebab setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya maka dengan serta merta ia menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahannya. Kemudian Al-Maqrizi memaparkan tentang dua macam syirik yang menimpa kebanyakan umat, yaitu syirik ilahiyyah dan rububiyyah. Syirik ilahiyyah inilah yang umumnya dilakukan orang-orang musyrik, seperti menyembah berhala, malaikat, jin, dan orang-orang yang dianggap suci. Disamping itu juga Al-Maqrizi menjelaskan syiriknya kalangan Qadariyah, dan mengarahkan pandangan-pandangan Qadariyah dan Jabariyah dengan santun dan argumentatif.

Risalah Ketiga, tentang kabilah-kabilah badui yang ada di Mesir. Dalam risalah ini juga dikemukan tentang berbagai kabilah atau suku, klan, trah dan marga. Al-Maqrizi juga mengungkapkan dengan gaya bahasa yang indah mengenai macam-macam nama kabilah arab yang masih memiliki harta benda sampai sekarang di propinsi Mesir mulai dari utara sampai selatan. Di samping itu Al-Maqrizi juga mengisahkan dengan alur sejarah yang indah tentang bagaimana kedatangan mereka dari jazirah Arab ke tanah Arab pada umumnya dan Mesir secara khusus.[10]

Risalah Keempat, tentang mata uang pada zaman dulu. Dalam hal ini, al-Baladiri dengan risalah-nya yang berjudul an-Nuqud telah mendahului Al-Maqrizi. Risalah ini mengungkap tentang mata uang kuno yang berlaku pada awal-awal Islam, kekhilafahan Islam dan Abbasiyah. Al-Maqrizi juga menjelaskan dirham baghli dan dirham jawaz. Menurut penuturan Al-Maqrizi, dirham baghli adalah mata uang yang berlaku di Persia. Disamping itu juga dijelaskan pengertian istilah awqiyyah, rithl, daniq, dan qirath. Menurut al-Maqirzi, setiap khalifah mencetak mata uang, seperti apa yang dilakukan oleh khalifah Usman bin Affan dengan mencetak mata uang dirham yang berlogo tulisan Allahu Akbar.[11]

Risalah Kelima, tentang keutamaan keluarga Nabi dengan diserati dalil-dalilnya, baik dari al-Qur`an maupun hadits. Dalam risalah ini Al-Maqrizi juga melakukan perbandingan antara ayat-ayat al-Qur`an dan tafsirnya yang diambil dari berbagai sumber-sumber tafsir yang otoritatif seperti al-Qurthubi dan Ibn Athiyah. Disini terlihat kepiawaian Al-Maqrizi menyodorkan kepada para pembacanya tentang ragam pendapat para ahli tafsir kenamaan.

Risalah Keenam, tentang berbagai hal kimiawi. Diantara yang dijelaskan didalam risalah ini adalah mengenai metal atau unsur kimiawi yang berat. Diantaranya ialah emas, perak, tembaga, timah, besi, dan seng. Dalam risalah ini terlihat bagaimana dengan bagusnya Al-Maqrizi menjabarkan unsure-unsur kimiawi sehingga ia nampak sebagai seoarang ahli kimia handal.

Risalah Ketujuh, tentang raja-raja Islam di Habsyi. Dalam risalah ini, Al-Maqrizi juga menjelaskan tentang negeri Habsyi. Di antara yang masuk ke dalam wilayah Habsyi ialah Zaila yang dibagi menjadi tujuh kerajaan, di antaranya adalah kerajaan Aufat, Hadiyyah, dan Daroh. Di samping itu dalam risalah ini kita akan melihat penjelasan secara tidak langusng mengenai kata bithriq (pemimpin para uskup) dan kata hathiyy dalam bahasa Habsyi yang sama dengan kata sulthan dalam bahasa Arab. Hal lain yang dijelaskan dalam risalah ini ialah penjelasan menganai aliran yang ada di Habsyi, seperti al-Yaqubiyyah dan al-Malakiyyah.[12]

Risalah Kedelapan, tentang menggebu-gebunya jiwa-jiwa yang mengutamakan dzikir. Risalah ini tergolong sangat pendek, tetapi isinya begitu menggugah jiwa. Bagi Al-Maqrizi orang yang utama adalah orang yang selalu atau melanggengkan dzikir.

Risalah Kesembilan, tentang akhir yang baik (Husn al-khatimah). Risalah Kesepuluh, tentang teka-teki air. Dan yang terakhir Risalah Kesebelas, tentang lebah. Inilah risalah yang sangat bagus dan banyak menarik berbagai kalangan untuk mempelajarinya. Dalam risalah ini Al-Maqrizi menjelaskan bagaimana lebah yang bagus, sifat-sifatnya dan namanamanya, serta macam-macam madu.

Semua risalah yang ditulis Al-Maqrizi menunjukkan bahwa ia adalah orang yang banyak mengetahui banyak hal. Dengan kata lain Al-Maqrizi adalah salah satu intektual Muslim yang multidimensi. Al-Maqrizi tidak hanya menguasai pengetahuan keagamaan, tetapi ia juga mengusai dengan baik pengetahuan non-keagamaan atau pengetahuan umum. Tidak banyak pada zamannya intektual yang banyak menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti Al-Maqrizi. Dengan membaca risalah-risalahnya maka dapat menyelami kedalaman ilmu al Maqrizi.[13]

B. Pemikiran Ekonomi Al-Maqrizi Tentang Uang.

Al-Maqrizi berada pada fase kedua dalam sejarah pemikiran ekonomi Islam, sebuah fase yang mulai terlihat tanda-tanda melambatnya berbagai kegiatan intelektual yang inovatif dalam dunia Islam. Latar belakang kehidupan Al-Maqrizi yang bukan seorang sufi atau filsuf dan relatif didominasi oleh aktivitasnya sebagai sejarawan Muslim sangat mempengaruhi corak pemikirannya tentang ekonomi. Ia senantiasa melihat setiap persoalan dengan Flash Back dan mencoba memotret apa adanya mengenai fenomena ekonomi suatu Negara dengan memfokuskan perhatiannya pada beberapa hal yang mempengaruhi naik turunnya suatu pemerintahan. Hal ini berarti bahwa pemikiran-pemikiran ekonomi Al-Maqrizi cendrung positif, suatu hal yang unik dan menarik pada fase kedua yang notabene didominasi oleh pemikiran yang normatif.[14]

Al-Maqrizi merupakan pemikir ekonomi Islam yang melakukan study khusus tentang uang dan inflasi. Focus perhatian Al-Maqrizi terhadap dua aspek yang dimasa pemerintahan Rasulullah dan Al-Khulafa Al-Rasyidin tidak menimbulkan masalah, ini tampaknya dilatarbelakangi oleh semakin banyaknya penyimpangan nilai-nilai Islam, terutama dalam kedua aspek tersebut, yang dilakukan oleh para kepala pemerintahan Bani Umayyah dan selanjutnya.[15]

Pada masa hidupnya, Al-Maqrizi dikenal sebagai seorang pengkritik keras kebijakan-kebijakan moneter yang diterapkan pemerintahan Bani Mamluk Burji yang dianggapnya sebagai sumber malapetaka yang menghancurkan perekonomian Negara dan masyarakat Mesir. Perilaku para penguasa Mamluk Burji yang menyimpang dari ajaran-ajaran agama dan moral telah mengakibatkan krisis ekonomi yang sangat parah yang didominasi oleh kecendrungan inflasioner yang semakin diperburuk dengan merebaknya wabah penyalit menular yang melanda Mesir selama beberapa waktu. Situasi tersebut menginspirasi Al-Maqrizi untuk mempresentasikan berbagai pandangannya terhadap sebab-sebab krisis dalam sebuah karyanya kitab Ighatsah Al-Ummah bi Kasyfil Gummah.

Dengan berbekal pengalaman yang memadai sebagai seorang muhtasib (pengawas pasar), Al-Maqrizi membahas permasalahan inflasi dan peranan uang didalamnya, sebuah pembahasan yang sangat menakjubkan di masa itu karena mengkorelasikan dua hal yang sangat jarang dilakukan oleh para pemikir Muslim maupun barat. Dalam karyanya tersebut, Al-Maqrizi ingin membuktikan bahwa inflasi yang terjadi pada periode 806-808 H adalah berbeda dengan inflasi yang terjadi pada periode-periode sebelumnya sepanjang sejarah Mesir[16].

Dari perspektif objek pembahasan, apabila ditelusuri kembali berbagai literature Islam klasik, pemikiran terhadap uang merupakan fenomena yang jarang diamati para cendikiawan Muslim, baik pada periode klasik maupun pertengahan. Menurut survey Islahi, selain Al-Maqrizi, diantara sedikit pemikir muslim yang memiliki perhatian terhadap uang pada masa ini adalah Al-Gazali, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Al-qayyim Al-Jauziyah dan Ibnu Khaldun. Dengan demikian, secara kronologis dapat dikatakan bahwa Al-Maqrizi merupakan cendekiawan Muslim abad pertengahan yang terakhir mengamati permasalahan tersebut, sekaligus mengkorelasikannya dengan peristiwa inflasi yang melanda suatu negeri[17].

Al-Maqzi adalah salah seorang murid Ibnu Khaldun yang terkemuka. Meskipun pada zaman rasulullah dan khulafaur Rasyidin uang dan inflasi tidak menimbulkan masalah sama sekali, tetapi dengan berjalannya waktu, banyak kepala pemerintahan yang meninggalkan nilai-nilai Islam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Akibatnya, kasus semacam ini menjadi masalah serius.[18]

Dalam hal ini dapat dilihat contoh kasus, system anggaran deficit, pada zaman Rasulullah, hal tersebut hanya satu kali dilakukan, yaitu sebelum perang hunain, itupun dibayar lunas setelah perang usai. Bandingkan dengan zaman Wazir (Perdana Mentri) Ibnu Furat (908-911) atau Ali bin Isa (912-916) ketika deficit anggaran dilakukan dengan meminjam dari bankir-bankir Yahudi dan Nasrani dalam jangka panjang. Sehingga terlihat perbedaan pola hidup Rasulullah dan para sahabat dibandingkan dengan kehidupan para Wazir di zaman Abbasyiah yang mempunyai simpanan ratusan ribu dinar di Bankir Yahudi dan Nasrani.[19] Begitu juga halnya dengan mata uang yang digunakan pada zaman Rasulullah mulai ditinggalkan dan diganti dengan fulus yang dikenalkan oleh Sultan Kamil Ayyubi, dan diteruskan oleh Barquq yang mencetak fulus dengan jumlah yang besar demi mengambil keuntungan. Hal inilah yang menyebabkan Al-Maqrizi mengkritisi pemerintah pada saat itu.[20]

Uang Islam secara resmi dan penuh pertama kali diterbitkan dalam bentuk dinar dan dirham Islam pada masa Khalifah Bani Umayah, Abdul Malik bin Marwan. Pada saat itu dinar dan dirham dicetak sesuai dengan timbangan yang telah ditentukan oleh Rasulullah. Sebelumnya Khalifah Umar pernah menerbitkan dirham, namun karena masih bercampur dengan unsur Persia maka tidak bisa disebut uang islam. Sampai saat ini, dinar dan dirham menjadi identik dengan Islam, padahal yang pertama menggunakan bukanlah umat Islam.[21]

Secara umum, ada perbedaan pendapat dintara fuqaha tentang keharusan penggunaan dinar dan dirham oleh umat islam sebagai mata uang dalam perkonomian. Pendapat pertama menyatakan bahwa uang adalah bentuk penciptaan dan hanya terbatas pada dinar dan dirham. Artinya, tidak ada bentuk mata uang lain yang boleh dipergunakan selain dinar dan dirham, termasuk juga uang kertas yang beredar saat ini. Karena menurut mereka Allah telah menciptakan emas dan perak sebagai tolok ukur nilai. Sebagai buktinya adalah banyaknya istilah emas dan perak yang disebut dalam Al-Qur’an. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Ghazali, Ibnu Qudamah, dan Al-Maqrizi. Dikatakan oleh Maqrizi, “Sesungguhnya uang yang menjadi harga barang-barang yang dijual dan nilai pekerjaan adalah hanya emas dan perak saja. Tidak diketahui dalam riwayat yang shahih maupun yang lemah dari umat manapun dan kelompok manusia manapun, bahwa mereka dalam masa lalu dan masa kontemporernya selalu menggunakan uang selain keduanya”.[22]

Pendapat kedua menyatakan bahwa uang adalah masalah terminologi. Maka segala sesuatu yang secara terminologi manusia dapat diterima dan diakui oleh mereka sebagai tolok ukur nilai, maka bisa disebut sebagai uang. Pandangan ini lebih dekat dengan definisi uang yang ada saat ini. Pendapat ini juga menyepakati substansi dari pernyataan Umar r.a sebagai berikut: “Aku ingin menjadikan dirham dari kulit unta” Lalu dikatakan kepadanya, “Jika demikian, unta akan habis” maka dia manahan diri. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin dapat uang dari materi apapun dan dengan bentuk apapun selama dapat merealisasikan kemaslahatan, dan tidak menyalahi aturan syariah.

Pendapat kedua ini didukung oleh Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Hazm. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa uang kembali pada terminologi manusia bahwa sesuatu itu adalah uang, dan ia beragam bentuknya sesuai keragaman tradisi dan adat istiadat manusia; dan beliau menafikan adanya uang yang pasti dengan hukum sya’i atau hukum alami (penciptaan). Dalam hal ini uang kertas yang banyak beredar saat ini secara fiqih dapat dinyatakan sebagai uang selama dalam terminologi manusia masih disebut uang.[23]

Perbedaan pendapat ini tidak hanya terkait lahiriah dan fisik dari uang itu sendiri, tapi lebih jauh adalah pada hal-hal yang substansial (misal:posisi zakat dan riba). Hal ini mengingat bahwa uang memiliki peranan yang sangat penting; pelayanan besar yang diberikan oleh uang dalam perkonomian, hubungan yang kuat antara uang dan perekonomian, pengaruh uang yang sangat besar, dan uang merupakan salah satu faktor kekuasaan dan kemandirian ekonomi.

Sebagai seorang sejarawan, Al-Maqrizi menyatakan beberapa pemikiran tentang uang melalui penelaahan sejarah mata uang yang digunakan oleh manusia. Pemikirannya ini meliputi sejarah dan fungsi uang, implikasi penciptaan mata uang buruk dan daya beli uang.[24] Inilah konsep uang menurut Al-Maqrizi:

1.    Sejarah dan Fungsi Mata Uang

Bagi Al-Maqrizi, mata uang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan ummat manusia, karena dengan menggunakan uang, manusia dapat memenuhi kebutuhan hidup serta memperlancar aktivitas kehidupannya. Oleh karena itu untuk membuktikan validitas premisenya terhadap permasalahan ini, ia mengungkapkan sejarah penggunaan mata uang oleh ummat manusia, sejak masa dahulu kala hingga masa hidupnya yang berada di bawah pemerintahan dinasti Mamluk.[25]

Menurut Al-Maqrizi, baik pada masa sebelum maupun setelah kedatangan Islam, mata uang digunakan oleh manusia untuk menentukan berbagai harga barang dan biaya tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan ini, mata uang yang dipakai hanya terdiri dari emas dan perak.

Dalam sejarah perkembangannya, Al-Maqrizi menguraikan bahwa bangsa Arab jahiliyyah menggunakan dinar emas dan dirham perak sebagai mata uang mereka yang masing-masing diadopsi dari romawi dan Persia serta mempunyai bobot dua kali lebih berat dimasa Islam. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW menetapkan berbagai praktik muamalah yang menggunakan kedua mata uang tersebut, bahkan mengkaitkannya dengan hukum zakat harta. Penggunaan kedua mata uang ini terus berlanjut tanpa perubahan sedikitpun hingga tahun 18 H ketika khalifah Umar ibnu Al-Khattab menambahkan lafaz-lafaz Islam pada kedua mata uang tersebut.

Perubahan yang sangt signifikan terhadap mata uang ini terjadi pada tahun 76 H. setelah berhasil menciptakan stabilitas politik dan keamanan, khalifah Abdul Malik ibnu Marwan melakukan reformasi moneter dengan mencetak dinar dan dirham Islam. Penggunaan kedua mata uang ini terus berlanjut, tanpa perubahan yang berarti, hingga pemerintahan Al-Mu’tashim, Khalifah terakhir dinasti Abbasyiah.[26]

Dalam pandangan Al-Maqrizi, kekacauan mulai terlihat ketika pengaruh kaum mamluk semakin kuat di kalangan istana, termasuk terhadap kebijakan percetakan mata uang dirham campuran. Pencetakan fulus, mata uang yang terbuat dari tembaga, dimulai pada masa pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, Sultan Muhammad Al-Kamil ibnu Al-Adil Al-Ayyubi, yang dimaksudkan sebagai alat tukar terhadap barang-barang yang tidak signifikan dengan rasio 48 fulus untuk setiap dirhamnya.[27]

Pasca pemerintahan Sultan Al-kamil, percetakan mata uang tersebut terus berlanjut hingga pejabat ditingkat provinsi terpengaruh laba yang besar dari aktivitas ini. Kebijakan sepihak mulai diterapkan dengan meningkatkan volume percetakan fulus dan menetapkan rasio 24 fulus perdirham. Akibatnya rakyat menderita kerugian yang besar karena barang-barang yang dahulu berharga setengah dirham sekarang menjadi satu dirham. Keadaan ini semakin memburuk ketika aktivasi pencetakan fulus meluas pada masa pemerintahan Al-Adil Kitbugha dan Sultan Al-Zahir Barquq yang mengakibatkan penurunan nilai mata uang dan kalangan barang-barang.[28]

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang di negara itu, tapi ditentukan oleh tingkat produksi negara tersebut dan neraca pembayaran yang positif. Bisa saja suatu Negara mencetak uang sebanyak-banyaknya tapi bila hal itu tidak mencerminkan pesatnya pertumbuhan sektor produksi, uang yang melimpah itu tidak ada nilainya. Pendapat ini menunjukkan bahwa pola perdagangan internasional telah menjadi bahasan utama para ulama ketika itu. Negara yang telah mengekspor berarti mempunyai kemampuan berproduksi lebih besar dari pada kebutuhan domestiknya sekaligus menunjukkan bahwa negara tersebut lebih efisien dalam produksinya (Ibnu Khaldun).

Senada dengan Ibnu khaldun, Ibnu Taimiyyah menentang keras terjadinya penurunan nilai mata uang akibat dari pencetakan mata uang yang terlalu banyak. Ia menyatakan

“Penguasa seharusnya mencetak fulus (mata uang selain emas dan perak) sesuai dengan nilai yang adil (proporsional) atas transaksi masyarakat, tanpa menimbulkan kezaliman terhadap mereka”. [29]

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Ibnu Taimiyah memiliki beberapa pemikiran tentang hubungan antara jumlah uang, total volume transaksi dan tingkat harga. Pernyataannya tentang volume fulus harus sesuai dengan proporsi jumlah transaksi yang terjadi adalah untuk menjamin harga yang adil. Ia menganggap bahwa nilai intrinsic mata uang harus sesuai dengan daya beli di pasar sehingga kecil kemungkinan terjadinya jual beli uang.[30]

Berbagai fakta sejarah tersebut menurut Al-Maqrizi mengidentifikasikan bahwa mata uang yang dapat diterima sebagai standar nilai, baik menurut hukum, logika maupun tradisi hanya yang terdiri dari emas dan perak. Oleh karena itu mata uang yang menggunakan bahan selain kedua logam ini tidak layak disebut sebagai mata uang.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa keberadaan fulus tetap diperlukan sebagai alat tukar terhadap barang-barang yang tidak signifikan dan untuk berbagai biaya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Dengan kata lain, penggunaan fulus hanya diizinkan dalam berbagai transaksi yang berskala kecil.[31]

Sementara itu walaupun menekankan urgensi penggunaan kembali mata uang yang terdiri dari emas dan perak, Al-Maqrizi menyadari bahwa uang yang bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kenaikan harga-harga. Menurutnya, penggunaan mata uang emas dan perak tidak serta merta menghilangkan inflasi dalam perekonomian karena inflasi juga dapat terjadi akibat faktor dalam dan tindakan sewenang-wenang dari penguasa.

2. Implikasi Penciptaan Mata Uang Buruk

Al-Maqrizi menyatakan bahwa penciptaan mata uang dengan kualitas yang buruk akan melenyapkan mata uang yang berkualitas baik. Hal ini terlihat jelas ketika ia menguraikan situasi moneter pada tahun 569 H. pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi ini, mata uang yang dicetak mempunyai kualitas yang sangat rendah dibandingkan dengan mata uang yang telah ada di peredaran. Dalam menghadapi kenyataan tersebut, masyarakat akan lebih memilih untuk menyimpan mata uang yang berkualitas baik dan meleburnya menjadi perhiasan serta melepaskan mata uang yang berkualitas buruk ke dalam peredaran. Akibatnya mata uang lama akan kembali ke peredaran.[32]

Menurut Al-Maqrizi, hal tersebut juga tidak terlepas dari pengaruh pergantian penguasa dan dinasti yang masing-masing menerapkan kebijakan yang berbeda dalam pencetakan bentuk serta nilai dinar dan dirham. Sebagai contoh, jenis dirham yang telah ada diubah hanya untuk merefleksikan penguasa pada saat itu. Dalam kasus yang lain terdapat beberapa perubahan tambahan pada komposisi logam yang membentuk dinar dan dirham. Konsekuensinya terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan ekonomi ketika persediaan logam bahan mata uang tidak mencukupi untuk memproduksi sejumlah unit mata uang. Begitu pula halnya ketika harga emas atau perak mengalami penurunan.[33]

3. Konsep Daya Beli Uang

Menurut Al-Maqrizi, percetakan mata uang harus disertai dengan perhatian yang lebih besar dari pemerintah untuk menggunakan mata uang tersebut dalam bisnis selanjutnya. Pengabaian terhadap hal ini, sehingga terjadi peningkatan yang tidak seimbang dalam pencetakan uang dengan aktivitas produksi dapat menyebabkan daya beli riil uang mengalami penurunan.[34]

Seperti halnya Ibnu Khaldun telah membangun hubungan sebab akibat antara pemerintahan yang buruk dengan harga-harga pangan yang melonjak, seraya menejelaskan bahwa pada tahapan dinasti selanjutnya, ketika administrasi public menjadi korup dan tidak efisien, serta mulai digunakannya pemaksaan dan perpajakan yang menindas, maka para petani tidak memiliki insentif dan akan berhenti menanam. Produksi bahan makanan dan cadangan tidak akan mampu berpacu dengan jumlah penduduk yang bertambah karena kemakmuran yang sebelumnya terjadi. Ketiadaan cadangan akan menyebabkan kelangkaan pasokan makanan yang menimbulkan kelaparan massal dan menyebabkan ekskalasi harga.[35]

Dalam hal ini, Al-Maqrizi memperingatkan para pedagang agar tidak terpukau dengan peningkatan laba nominal mereka. Menurutnya mereka akan menyadari hal tersebut ketika membelanjakan sejumlah uang yang lebih besar untuk berbagai macam pengeluarannya. Dengan kata lain, seorang pedagang dapat terlihat memperoleh keuntungan yang lebih besar sebagai seorang produsen. Namun sebagai seorang konsumen, ia akan menyadari bahwa dirinya tidak memperoleh keuntungan sama sekali.

C. Teori Inflasi

Dengan mengungkapkan berbagai fakta bencana kelaparan yang pernah terjadi di Mesir, Al-Maqrizi meyatakan bahwa peristiwa inflasi merupakan sebuah fenomena alam yang menimpa kehidupan masyarakat di seluruh dunia sejak masa dahulu hingga sekarang. Menurutnya terjadi ketika harga-harga secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung terus-menerus. Pada saat ini persediaan barang dan jasa mengalami kelangkaan, dan karena konsumen sangat membutuhkannya, maka konsumen harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk barang dan jasa yang sama.

Dalam uraian berikutnya, Al-Maqrizi membahas permasalahan inflasi secara lebih mendetail. Ia mengklasifikasikan inflasi berdasarkan faktor penyebabnya ke dalam dua hal, yaitu inflasi yang di sebabkan oleh faktor alamiah dan inflasi yang disebabkan oleh kesalahan manusia.[36]

1.      Inflasi Alamiah

Sesuai dengan namanya, inflasi jenis ini disebabkan oleh berbagai faktor alamiah yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Menurut Al-Maqrizi, ketika suatu bencana alam terjadi, berbagai bahan makanan dan hasil bumi lainnya mengalami gagal panen, sehingga persediaan barang-barang tersebut mengalami penurunan yang sangat drastic dan terjadi kelangkaan. Dilain pihak karena sifatnya yang sangat signifikan dalam kehidupan, permintaan terhadap berbagai barang tersebut mengalami peningkatan. Harga-harga membumbung tinggi jauh melebihi daya beli masyarakat. Hal ini sangat berimplikasi terhadap kenaikan harga berbagai barang dan jasa lainnya. Akibatnya, transaksi ekonomi mengalami kemacetan, bahkan berhenti sama sekali yang pada akhirnya menimbulkan bencana kelaparan, wabah penyakit dan kematian dikalangan masyarakat.[37]

Keadaan yang semakin memburuk tersebut memaksa rakyat untuk menekan pemerintah agar segera memperhatikan keadaan mereka. Untuk menaggulangi bencana itu, pemerintah mengeluarkan sejumlah besar dana yang mengakibatkan perbendaharaan negara mengalami penurunan drastic karena disisi lain pemerintah tidak mendapatkan pemasukan yang berarti. Dengan kata lain pemerintah mengalami deficit anggaran Negara baik secara politik, ekonomi, maupun social, dan menjadi tidak stabil yang kemudian menyebabkan keruntuhan sebuah pemerintahan.[38]

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa sekalipun suatu bencana telah berlalu, kenaikan harga-harga tetap berlangsung. Hal ini merupakan implikasi dari bencana alam sebelumnya yang mengakibatkan aktivitas ekonomi terutama di sector produksi mengalami kemacetan. Ketika situasi lebih normal, persediaan barang-barang yang signifikan, seperti benih padi, tetap tidak beranjak naik, bahkan tetap langka, sedangkan permintaan terhadapnya meningkat tajam. Akibatnya, harga barang-barang ini mengalami kenaikan yang kemudian diikuti oleh kenaikan harga berbagai jenis barang dan jasa lainnya, termasuk upah dan gaji para pekerja.[39]

2. Inflasi Karena Kesalahan Manusia

Selain faktor alam, Al-Maqrizi menyatakan bahwa inflasi dapat terjadi akibat kesalahan manusia. Ia telah mengidentifikasi tiga hal yang menyebabkan terjadinya inflasi jenis kedua ini yaitu: korupsi dan administrasi yang buruk, pajak yang berlebihan dan peningkatan sirkulasi mata uang fulus.

a.      Korupsi dan Administrasi yang Buruk.

Al-Maqrizi menyatakan bahwa pengangkatan para pejabat pemerintahan yang berdasarkan pemberian suap dan bukan karena kavabilitas, akan menempatkan orang-orang yang tidak memiliki kredibilas pada jabatan penting dan terhormat baik dikalangan legislative, yudikatif, maupun ekskutif. Mereka rela menggadaikan seluruh harta miliknya sebagai kompensasi untuk meraih jabatan yang diinginkan serta kebutuhan sehari-hari sebagai pejabat. Akibatnya para pejabat pemerintahan tidak lagi bebas dari intervensi dan intrik para kroni istana. Mereka bukan hanya disigkirkan setiap saat, tetapi juga disita kekayaannya, bahkan diekskusi. Kondisi ini selanjutnya sangat mempengaruhi moral dan efisiensi administrasi sipil dan militer.[40]

Ketika berkuasa, para pejabat tersebut mulai menyalah gunakan kekuasaan untuk meraih kepentingan pribadi, baik untuk memenuhi kewajiban finansialnya maupun kemewahan hidup. Mereka berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Merajalelanya ketidakadilan para pejabat tersebut telah membuat kondisi rakyat semakin meperihatinkan, sehingga mereka terpaksa meninggalkan kampunga halaman dan pekerjaannya. Akibatnya terjadi penurunan drastic jumlah penduduk dan tenaga kerja serta hasil-hasil produksi yang sangat berimplikasi terhadap penurunan penerimaan pajak dan pendapatan Negara.[41]

b. Pajak Yang Berlebihan

Menurut Al-Maqrizi akibat dominasi para pejabat bermental korup dalam suatu pemerintahan, pengeluaran Negara megalami peningkatan yang sangat drastic. Sebgai kompensasinya, mereka menerapkan system perpajakan yang menindas rakyat dengan memeberlakukan berbagai pajak baru serta menaikkan tingkat pajak yang telah ada. Hal ini sangat mempengaruhi kondisi para petani yang merupakan kelompok mayoritas dalam masyarakat. Para pemilik tanah yang ingin selalu berada dalam kesenangan akan melimpahkan beban pajak kepada para petani melalui peningkatan biaya sewa tanah, sehingga tekanan para pejabat dan para pemilik tanah terhadap petani menjadi lebih besar dan intensif.[42]

Frekuensi berbagai pajak untuk pemeliharaan bendungan dan pekerjaan-pekerjaan yang serupa semakin meningkat, konsekuensinya biaya-biaya untuk penggarapan tanah, penaburan benih, pemungutan hasil panen dan sebagainya meningkat. Dengan kata lain, panen padi yang dihasilkan pada kondisi ini membutuhkan biaya yang lebih besar hingga melebihi jangkauan para petani.

Kenaikan harga-harga tersebut terutama benih padi hampir mustahil mengalami penurunan karena sebagian besar benih padi dimiliki oleh para pejabat yang sangat haus kekayaan Akibatnya para petani kehilagan motivasi untuk bekerja dan memproduksi. Mereka lebih memilih meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaannya daripada harus hidup dalam penderitaan umtuk kemudian menjadi pengembara di daerah-daerah pedalaman. Dengan demikian, terjadi penurunan jumlah tenaga kerja dan peningkatan lahan tidur yang akan mempengaruhi tingkat hasil produksi serta hasil bumi lainnya, dan pada akhirnya menimbulkan kelangkaan bahan makanan serta meningkatnya harga-harga.[43]

c.    Peningkatan Sirkulasi Mata Uang Fulus

Seperti yang telah disinggung diatas, pada awalnya mata uang fulus yang mempunyai nilai intrinsic jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai nominalnya dicetak sebagai alat transaksi untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak signifikan. Oleh sebab itu jumlah mata uang ini sangat sedikit yang terdapat dalam peredaran.

Ketika terjadi deficit anggaran sebagai akibat dari prilaku buruk dari para pejabat yang menghabiskan uang Negara untuk berbagai kepentingan pribadi dan kelompoknya, akhirnya pemerintah melakukan pencetaka uang fulus secara besar-besaran. Menurut Al-Maqrizi, kegiatan tersebut semakin meluas pada saat ambisi pemerintah untuk memperoleh keuntungan yang besar dari pencetakan mata uang yang tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi sehingga semakin tidak terkendali. Sebagai penguasa, mereka mengeluarkan maklumat yang memaksa masyarakat untuk menggunakan mata uang itu. Jumlah fulus yang dimiliki masyarakat semakin besar dan sirkulasinya mengalami peningkatan yang sangat tajam sehingga fulus menjadi mata uang yang dominan.[44]

Lebih jauh, Al-Maqrizi menyatakan bahwa kebijakan pemerintah tersebut berimplikasi terhadap keberadaan mata uang yang lainnya. Seiring dengan keuntungan besar yang diperoleh dari pencetakan fulus, pemerintah menghentikan pencetakan perak sebagai mata uang. Bahkan sebagai salah satu implikasi gaya hidup para pejabat, sejumlah dirham yang dimilki oleh masyarakat dilebur menjadi perhiasan. Sebagai hasilnya, mata uang dirham mengalami kelangkaan dan menghilang dari peredaran, sementara itu mata uang dinar masih terdapat dalam peredaran meskipun hanya dimilki oleh beberapa gelintir orang.

Keadaan ini menempatkan fulus sebagai standar nilai bagi sebagian besar barang dan jasa. Kebijakan pencetakan fulus secara besar-besaran menurut Al-Maqrizi sangat mempengaruhi penurunan nilai mata uang secara drastic. Akibatnya uang tidak lagi bernilai dan harga-harga membumbung tinggi yang pada gilirannya menimbulkan kelangkaan bahan makanan.[45]


1] Eko Suprayitno, Ekonomi Islam, (Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional),(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), hal. 1.

[2] Zainal Abidin, Dasar-dasar Ekonomi Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 17.

[3] Adiwarman A.Karim, Penerapan Syari’at Islam di Bidang Ekonomi, http://syariahonline.com/new_index/accessed 24 januari 2008.

[4] Suheri, Inflasi Dalam Perspektif Islam, http://suherilbs.wordpress.com/2007/12/09/inflasi-dalam-perspektif-islam/accessed 24 januari 2008.

[8] Umar Chapra, Sistim Moneter Islam. (Jakarta: Gema Insani Press. 2000), hal 76-77.

[9] Adiwarman A.Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada , 2004), hal. 414.

[10] Ibid.

[11] Adiwarman A.Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 68.

[1] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 414.

[2] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Suplemen Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999), Jilid 2, hal 42.

[3] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 415.

[4] Umer Chapra. Masa Depan Ilmu Ekonomi (Sebuah Tinjauan Islam). (Jakarta: Gema Insani Press. 2001), hal. 143.

[5]  Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 416.

[6] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Suplemen., hlm. 42.

[7] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 417.

[8] Ibid.

 

[9] Rasa’l Al-Maqrizi. http://www.pondokpesantren.net/ponpren Powered by Joomla! Generated: 22 March, 2008./accessed 5 Mei 2008.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

 

[14] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 418

[15] Adiwarman A.Karim, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), Cet ke- I, hlm. 67.

[16] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 419.

[17] Ibid., hal. 420.

[18] Adiwarman A.Karim, Ekonomi., hal 68.

[19] Ibid.

 

[20] Umer Chapra. Masa Depan., hal. 143.

[21] Abdul Hadi Ilman, Uang.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

 

[24] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 419.

[25] Ibid., hal. 420.

[26] Ibid., hal. 421.

[27] Al-Maqrizi, Ighatsah Al-Ummah bi Kasyf Al-Gummah, (Kairo: Maktabah Al-tsaqafah Al-Diniyah, 1986) dalam  Adiwarman A.Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam,…, hal. 421.

[28] Ibid.

[29] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam, (Riyadh: Matabi’ al-Riyadh, 1963, vol. 29, dalam  Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 374.

[30] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 422.

[31] Al-Maqrizi, Ighatsah Al-Ummah bi Kasyf Al-Gummah, (Kairo: Maktabah Al-tsaqafah Al-Diniyah, 1986) dalam  Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 422.

[32] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 423.

[33] Aidit Ghazali, Islamic Thinkers on Economic, Administratio, and Transaction, (Kuala Lumpur: Quil Publisher, 1991), hlm 159.

[34] Al-Maqrizi, Ighatsah Al-Ummah bi Kasyf Al-Gummah, (Kairo: Maktabah Al-tsaqafah Al-Diniyah, 1986) dalam  Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 424.

[35] Umer Chapra. Masa Depan., hal. 143.

[36] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 425

[37] Ibid.

[38] Ibid., hal. 426

[39] Ibid.

[40]  Umer Chapra. Masa Depan., hal. 143.

[41] Adiwarman A.Karim, Sejarah., hal. 425.

[42] Ibid.

[43] Ibid., hal. 426.

[44] Ibid.

[45] Adiwarman A.Karim, Ekonomi., hal. 68.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: